Di Balik Sosok Tenang KH Fadlullah Malik: Pengader, Penggerak, dan Penjaga Tambakberas
Saturday, 16 May 2026 | 00:18 WIB
Diambil dari Youtube Bahrul Ulum Studio
Keteladanan KH M. Fadlullah Malik tidak hanya terlihat dalam kehidupan pribadi beliau, tetapi juga dalam perjuangannya membina generasi muda, menjaga tradisi pesantren, dan menguatkan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh KH Azzam Khoiruman Nadjib dalam rangkaian isyhad yang digelar di ndalem beliau sekaligus Pondok Pesantren Al-Maliki 1 pada hari Kamis, 14 Mei 2026.
Menurut Gus Heru, salah satu metode kaderisasi Gus Fadl adalah membiasakan generasi muda untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan pesantren maupun organisasi sejak dini.
Saat kegiatan Ansor dan aktivitas organisasi di yayasan berlangsung, para gus muda selalu diajak ikut meskipun belum memahami semuanya secara penuh. Bagi Gus Fadl, keterlibatan langsung menjadi cara terbaik untuk membentuk pengalaman dan mental perjuangan.
“Artinya, Kiai Fadlulloh mboten purun generasi berikutnya awam terhadap kegiatan-kegiatan yang bakal dihadapi. Begitu metode kaderisasi Gus Fadl. (Artinya Kiai Fadlullah tidak ingin generasi berikutnya buta terhadap kegiatan-kegiatan yang nantinya akan mereka hadapi. Itulah metode kaderisasi Gus Fadl.)” tutur Gus Heru.
Tidak hanya mengenalkan organisasi, Gus Fadl juga aktif membangun hubungan antarpesantren dan mempererat persaudaraan antarulama. Setiap sowan ke berbagai masyayikh, beliau selalu mengajak generasi muda agar mereka mengenal langsung para kiai dan lingkungan pesantren lainnya.
Menurut Gus Heru, hubungan tersebut bukan sekadar silaturahim biasa, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga sanad keilmuan dan persaudaraan pesantren.
“Hubungan Kiai Fadlulloh kale pesantren-pesantren mboten namung sekadar hubungan, tetapi saling memperkenalkan diri kemudian mengikat persaudaraan, saling memberikan do’a lan nyuwun do’a. (Hubungan Kiai Fadlullah dengan pesantren-pesantren bukan sekadar hubungan biasa, tetapi membangun persaudaraan, saling mendoakan, dan saling meminta doa.)” jelasnya.
Kecintaan Gus Fadl terhadap Tambakberas juga disebut sangat besar. Saat sowan kepada para ulama seperti KH M. Fadhol, KH Umar, hingga KH Miek, beliau lebih sering meminta doa untuk Tambakberas dibanding untuk kepentingan pribadi.
“Ten Mbah Fadlol, ten Mbah Yai Umar Bangilan, ten Gus Miek, Bu Nyai Badriyah lan Bu Nyai Rodhiyah, nggeh Tambakberas seng disuwun. Bukan dirinya, bukan keluarganya, yang dipikirkan jauh lebih besar. (Saat sowan kepada para masyayikh, yang selalu dimintakan doa adalah Tambakberas. Bukan dirinya sendiri atau keluarganya, tetapi sesuatu yang lebih besar.)” kenangnya.
Menurut Gus Heru, semangat perjuangan Gus Fadl juga terlihat dari kepeduliannya terhadap dakwah Aswaja di tengah masyarakat. Bahkan ketika kondisi kesehatannya mulai menurun dan tidak memungkinkan bepergian jauh, beliau tetap memikirkan penguatan jamaah NU di berbagai daerah.
Salah satunya saat Gus Heru diminta berangkat ke kawasan Dolly, Surabaya untuk membantu pembinaan MWCNU Sawahan. Karena tidak dapat hadir langsung, Gus Fadl menyiapkan rekaman ceramah agar tetap bisa disampaikan kepada masyarakat di sana.
“Berangkato nanggone Dolly, iku onok MWCNU Sawahan ramuten! Ayok diramut, aku seng rekaman mengko samean seng budal. (Berangkatlah ke Dolly, di sana ada MWCNU Sawahan yang perlu dirawat. Ayo dirawat, saya yang menyiapkan rekamannya, nanti kamu yang berangkat.)” tutur Gus Heru menirukan dawuh beliau.
Perjuangan tersebut, menurut Gus Heru, dilakukan secara diam-diam tanpa banyak diketahui orang lain.
“Mboten enten seng semerap, saestu mboten enten. Ning Ziya niku namung sepindah ngancani rekaman. (Hampir tidak ada yang tahu, benar-benar tidak ada. Bahkan Ning Ziya hanya sekali menemani saat rekaman.)” ungkapnya.
Selain dikenal sebagai penggerak dakwah dan pembina kader, Gus Fadl juga disebut sebagai sosok yang rela berkorban demi keluarga. Setelah wafatnya sang ayah, KH Abdul Malik, Gus Fadl harus memikul tanggung jawab besar sebagai anak tertua dari sepuluh bersaudara.
Menurut Gus Heru, demi memastikan seluruh adik-adiknya tetap mendapatkan pendidikan yang baik, Gus Fadl memilih tetap tinggal di Tambakberas dan mengabdikan dirinya untuk keluarga serta pesantren.
“Dzuriyah Kiai Abdul Malik, mulai dari Kiai Fatkhulloh ngantos Gus Aan seng tasik ten rahim waktu ditinggal niku, terdidik secara tuntas dengan pengorbanan dirinya Kiai Fadl yang mboten medal saking Tambakberas. (Seluruh dzuriyah Kiai Abdul Malik, mulai dari Kiai Fatkhulloh hingga Gus Aan yang masih dalam kandungan saat ditinggal ayahnya, bisa terdidik dengan baik karena pengorbanan Kiai Fadl yang memilih tetap tinggal di Tambakberas.)” jelasnya.
Tidak hanya merawat adik-adiknya, Gus Fadl juga menjadi tempat bergantung dan pembimbing bagi keluarga besar lainnya, termasuk Gus Heru sendiri yang kehilangan ayah di usia muda.
“Kulo ditinggal bapak niku umur 13 lek mboten 14 ngoten. Ket alit niku diramut Gus Fadl sehingga mentor kulo ten Gus Fadl niki, konsultasi nggeh ten beliau. (Saya ditinggal ayah saat usia sekitar 13 atau 14 tahun. Sejak kecil saya dirawat Gus Fadl sehingga beliau menjadi mentor tempat saya berkonsultasi.)” kenangnya.
Di akhir isyhadnya, Gus Heru menyampaikan bahwa banyak keteladanan Gus Fadl baru benar-benar dirasakan setelah beliau wafat. Sosok beliau dinilai memiliki karakter yang lengkap dan sulit ditemukan pada zaman sekarang.
“Banyak sekali teladan yang ada di diri Gus Fadl, lan kito nembe mangertos naliko beliau sampun mboten wonten. Niku Gus Fadl, sosok yang mempunyai kelengkapan karakter yang sulit sekali dicari. Ini yang membuat kita begitu merasa kehilangan, terutama para dzuriyyah. (Banyak sekali keteladanan dari Gus Fadl yang baru kita sadari setelah beliau wafat. Beliau adalah sosok dengan karakter yang sangat lengkap dan sulit dicari penggantinya. Itulah yang membuat kita merasa sangat kehilangan, terutama para dzuriyah.)” pungkasnya.