Logo Navigasi

© 2026 Bahrul Ulum ID

Berita

KH Anshori Shehah Sebut KH Fadlullah Malik Memiliki Kemampuan Merangkul Semua Kalangan

Friday, 15 May 2026 | 18:56 WIB

KH Anshori Shehah Sebut KH Fadlullah Malik Memiliki Kemampuan Merangkul Semua Kalangan

Diambil dari Youtube Bahrul Ulum Studio

Admin

Admin

Redaksi Utama

Isyhad hari keempat untuk almarhum almaghfurlah KH M. Fadlullah Malik atau yang dikenal sebagai Pengasuh Pondok Induk Bahrul Ulum digelar pada Selasa, 12 Mei 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di ndalem beliau yang juga menjadi Pondok Pesantren Al-Maliki 1.

Isyhad disampaikan oleh KH Anshori Shehah yang mengenang kedekatannya dengan Gus Fadl, terutama dalam aktivitas dakwah dan kegiatan rutin keagamaan yang telah berjalan selama bertahun-tahun.

Dalam kesaksiannya, Kiai Anshori menyebut dirinya pernah satu kantor dengan Gus Fadl dan semakin dekat dalam sepuluh tahun terakhir, khususnya melalui kegiatan Jamrut Washol.

“Kulo kale Gus Fadl niku pernah satu kantor. Sepuluh tahun terakhir niku kulo raket kale Gus Fadl, terutama ten Jamrut Washol. (Saya dengan Gus Fadl dulu pernah satu kantor. Sepuluh tahun terakhir hubungan kami semakin dekat, terutama dalam kegiatan Jamrut Washol.)” tuturnya.

Jamrut Washol sendiri merupakan singkatan dari Jam’iyyah Rutin Waqi’ah dan Sholawat yang didirikan oleh KH Fadlullah Malik sekitar sepuluh tahun lalu dan masih istiqamah berjalan hingga sekarang. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap Selasa malam Rabu dengan jumlah jamaah sekitar 40–50 orang.

Rangkaian acaranya dimulai setelah salat Isya dengan salat tasbih empat rakaat, salat taubat, salat witir, pembacaan Surat Al-Waqi’ah, lalu dilanjutkan dengan shalawat bersama.

Menurut Kiai Anshori, kemampuan Gus Fadl dalam mendirikan sekaligus menjaga keberlangsungan sebuah majelis menjadi salah satu kelebihan yang tidak dimiliki semua orang.

“Niku salah satu kelebihan dari Gus Fadl, saged damel suatu kegiatan iso berjalan dangu. Wah pancene hebat iki, wes ngedekno Jamrut Washol terus Jama’ah Ahad Pahing. Wah iki seng angel iki, iso ngedekno terus bertahan lama iku angel. Milo niki kelebihane Gus Fadl. (Itu salah satu kelebihan Gus Fadl, mampu membuat sebuah kegiatan bertahan lama. Memang luar biasa, sudah mendirikan Jamrut Washol dan Jamaah Ahad Pahing. Yang sulit itu bukan sekadar mendirikan, tetapi membuatnya tetap berjalan lama. Itulah kelebihan Gus Fadl.)” jelasnya.

Kiai Anshori kemudian menjelaskan bahwa keberhasilan dakwah Islam di Indonesia tidak lepas dari kemampuan para wali membaca budaya dan kearifan lokal masyarakat. Para wali tidak langsung menolak tradisi yang ada, melainkan merangkul masyarakat dengan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam budaya tersebut.

Menurut beliau, pendekatan seperti itulah yang juga dilakukan Gus Fadl dalam membangun kegiatan-kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.

“Nggeh niki, kearifan lokal niki ingkang ditiru kaliyan Gus Fadl ngantos saget ngedekaken Jamrut Washol yang diikuti oleh 40–50 orang. (Inilah bentuk kearifan lokal yang dicontoh oleh Gus Fadl sehingga mampu mendirikan Jamrut Washol yang diikuti sekitar 40–50 orang.)” ungkapnya.

Meski kini Gus Fadl telah wafat, Kiai Anshori meyakini pahala dari majelis yang beliau dirikan akan terus mengalir selama kegiatan tersebut masih berjalan.

“Gus Fadl sampun mboten saget tumut acara niki maleh, tapi kulo yakin ganjarane terus ngalir kerono beliau yang mendirikan jama’ah niki. (Gus Fadl memang sudah tidak bisa mengikuti acara ini lagi, tetapi saya yakin pahalanya akan terus mengalir karena beliau yang mendirikan jamaah ini.)” tuturnya.

Beliau kemudian mengutip hadis Rasulullah SAW tentang pahala amal baik yang terus mengalir:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

(Barang siapa memulai suatu kebiasaan yang baik, maka ia akan mendapatkan pahala dari amal tersebut dan pahala dari orang-orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.)

Selain dikenal berhasil membangun majelis keagamaan, Gus Fadl juga disebut memiliki kemampuan luar biasa dalam bergaul dengan semua lapisan masyarakat. Menurut Kiai Anshori, tidak mudah menemukan sosok yang mampu diterima baik oleh masyarakat desa, kalangan pejabat, maupun berbagai kelompok lainnya secara bersamaan.

“Kulo pikir maleh kelebihane Gus Fadl niku saged sesrawungan kale segala lapisan masyarakat. Wong deso yo iso, wong kuto yo iso, masyarakat luas nggeh saged, pejabat nggeh saged, kumpul petani nggeh saged. Niku angel. (Menurut saya, kelebihan Gus Fadl lainnya adalah mampu bergaul dengan semua lapisan masyarakat. Dengan orang desa bisa, dengan orang kota bisa, dengan masyarakat umum bisa, dengan pejabat juga bisa, bahkan berkumpul dengan para petani pun bisa. Itu hal yang sulit.)” jelasnya.

Kiai Anshori kemudian menceritakan bahwa Gus Fadl memiliki jamaah rutin yang mayoritas berasal dari masyarakat biasa, tetapi di sisi lain juga sangat dekat dengan para pejabat daerah. Beliau pernah diajak Gus Fadl berkunjung ke kantor bupati pada malam hari hanya untuk berdiskusi santai hingga waktu sahur, dan Gus Fadl mampu mengikuti pembicaraan dengan sangat baik.

Menurutnya, kemampuan seperti itu merupakan sifat langka yang dahulu juga dimiliki para wali dalam berdakwah.

“Sifat ngeten niki angel, sifat ngeten niki tinggalane poro wali. (Sifat seperti ini sulit ditemukan. Sifat seperti ini adalah warisan para wali.)” katanya.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa keberhasilan Islam berkembang pesat di Indonesia juga disebabkan kemampuan para wali mendekati para pemimpin dan raja pada masa itu. Kedekatan tersebut membuat dakwah Islam lebih mudah diterima masyarakat luas.

Untuk memperkuat penjelasannya, Kiai Anshori mengutip sebuah ungkapan terkenal:

الْقَوْمُ عَلَى دِيْنِ مُلُوْكِهِمْ

(Rakyat biasanya mengikuti agama para pemimpinnya.)

Menurut beliau, pola pendekatan kepada pemimpin inilah yang juga terlihat dalam diri Gus Fadl. Kedekatan antara ulama dan pejabat dianggap penting agar para pemimpin tetap mendapatkan nasihat dan arahan yang baik.

“Sifat inilah yang saya baca ada pada diri Gus Fadl. Kedekatan pejabat dengan ulama, amergi lek mboten cedak mboten saget ngandani. Mulo niki dados penting. Ilmu niki loh yang dimiliki Gus Fadl seng angel ditiru. (Sifat inilah yang saya lihat ada pada diri Gus Fadl. Kedekatan pejabat dengan ulama itu penting, karena kalau tidak dekat maka tidak bisa saling menasihati. Inilah ilmu yang dimiliki Gus Fadl dan sulit ditiru.)” pungkasnya.

Kesaksian KH Anshori Shehah menggambarkan sosok KH Fadlullah Malik sebagai ulama yang mampu memadukan dakwah, kearifan lokal, serta hubungan sosial dengan berbagai kalangan masyarakat. Keteladanan tersebut menjadi salah satu warisan penting yang terus dikenang oleh para santri dan masyarakat Bahrul Ulum.

Bagikan Kebaikan

Teruskan khazanah kebaikan ini kepada dunia.

Komentar