Logo Navigasi

© 2026 Bahrul Ulum ID

Berita

KH Lukman Hakim Mahfudz Kenang Keikhlasan dan Kesederhanaan KH Fadlullah Malik

Friday, 15 May 2026 | 16:23 WIB

KH Lukman Hakim Mahfudz Kenang Keikhlasan dan Kesederhanaan KH Fadlullah Malik

Diambil dari Youtube Bahrul Ulum Studio

Admin

Admin

Redaksi Utama

KH Lukman Hakim Mahfudz menyampaikan isyhad pada hari ketiga atas wafatnya KH M. Fadlullah Malik atau yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Induk Bahrul Ulum. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin, 11 Mei 2026 di kediaman beliau yang juga menjadi Ribath Al Maliki 1 Bahrul Ulum.

Dalam kesaksiannya, KH Lukman Hakim Mahfudz menilai bahwa sifat paling menonjol dari sosok Kiai Fadl adalah keikhlasan yang benar-benar melekat dalam kehidupannya. Menurut beliau, pujian maupun celaan tidak pernah memengaruhi sikap Gus Fadl.

“Kiai Fadl niku tiyang ikhlas. Dilem karo dipaido kanggone de’e gak pengaruh blas. Dipaido gak mangkel, dilem yo gak seneng lan bangga. (Kiai Fadl itu sosok yang ikhlas. Dipuji maupun dicela sama sekali tidak berpengaruh bagi beliau. Dicela tidak marah, dipuji juga tidak merasa bangga berlebihan.)” tuturnya.

KH Lukman kemudian mengenang kebersamaannya dengan Gus Fadl saat sama-sama mengabdi di kantor I’dadiyah Bahrul Ulum. Selama beberapa tahun, keduanya bertugas sebagai tenaga tata usaha dan menjalin hubungan yang sangat dekat.

“Kulo karo Kiai Fadlulloh niku konco ten kantor I’dadiyah, sami-sami dados TU selama beberapa tahun. Niku podo-podo sungkane, lek matur sami-sami bosone. (Saya dengan Kiai Fadlullah dulu berteman di kantor I’dadiyah, sama-sama menjadi TU selama beberapa tahun. Kami sama-sama sungkan, bahkan kalau berbicara pun saling memakai bahasa yang sopan.)” kenangnya.

Beliau juga menceritakan bagaimana Gus Fadl dikenal sebagai pribadi yang telaten dan bertanggung jawab dalam pekerjaan. Saat masa ujian semester, KH Lukman bertugas membuat soal, sedangkan Gus Fadl mengatur penomoran dan penyusunan lembar soal di bank soal.

Menurutnya, pekerjaan tersebut sebenarnya cukup melelahkan dan pada masa sekarang biasanya diserahkan kepada para murid. Namun berbeda dengan Gus Fadl yang memilih mengerjakannya sendiri dengan penuh kesabaran.

“Waktu niku, lek semester seng damel soal kulo, terus seng gawe nomor lan noto nomor ten bangku niku Gus Fadl. Kerjaan nempel nomor niku lek wong sakniki gak pati gelem, biasane diwehno neng murid-murid. Kiai Fadlulloh rumiyen mboten, ditandangi piyambak. Sehingga rumiyen nganti dangu-dangu ten kantor I’dadiyah. (Waktu itu kalau musim semester yang membuat soal saya, lalu yang membuat nomor dan menempel nomor di meja itu Gus Fadl. Pekerjaan menempel nomor seperti itu sekarang biasanya jarang ada yang mau dan sering diberikan kepada murid-murid. Tetapi dahulu Kiai Fadlullah mengerjakannya sendiri, sampai sering sampai malam di kantor I’dadiyah.)” jelasnya.

Selain dikenal telaten, Gus Fadl juga disebut sebagai pribadi yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. KH Lukman mengaku hampir tidak pernah melihat beliau marah kepada orang lain.

“Kiai Fadlulloh niku kale wong-wong supel, dereng nate semerap kulo muring-muring e, bahkan sambil guyon. Ndek pundi-pundi ketingale guyon. (Kiai Fadlullah itu sangat supel kepada semua orang. Saya hampir tidak pernah melihat beliau marah-marah, bahkan sering bercanda. Di mana pun terlihat selalu membawa suasana guyon.)” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH Lukman juga menyampaikan nasihat yang pernah beliau renungkan mengenai kehidupan dunia dan akhirat. Menurutnya, kenikmatan maupun kesulitan di dunia sejatinya bersifat sementara.

“Ora ono enak paling enak ngeluwihi koyok enak e wong seng ninggalno dunyo naliko oleh enak, lan ora ono gak enak paling gak enak ngeluwihi gak enak e wong seng ninggal ndunyo naliko oleh gak enak. (Tidak ada kenikmatan yang melebihi nikmatnya orang yang meninggal dunia dalam keadaan baik, dan tidak ada kesusahan yang melebihi susahnya orang yang meninggal dalam keadaan buruk.)” tuturnya.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa seluruh kenikmatan dan kesulitan di dunia memiliki batas waktu, sedangkan kehidupan alam kubur bersifat panjang dan menjadi penentu keadaan seseorang setelah wafat.

“Kerono enak lan gak enak neng alam ndunyo iku onok batese, tapi lek enak lan gak enak neng alam kubur iku gak enek batese. (Karena nikmat dan susah di dunia itu ada batasnya, tetapi nikmat dan susah di alam kubur tidak ada batasnya.)” lanjutnya.

Atas dasar amal baik dan sifat-sifat mulia yang dimiliki Gus Fadl selama hidupnya, KH Lukman menyampaikan keyakinannya bahwa beliau kini berada dalam keadaan yang penuh kenikmatan di sisi Allah SWT.

“Milo keranten amal-amal kesaenan lan sifat-sifat sae beliau, kulo yakin beliau sakniki niku angsal kenikmatan. Kulo yakin, Kiai Fadlulloh sakniki langkung enak timbangane nek ndunyo winginane. (Karena amal-amal baik dan sifat-sifat mulia beliau, saya yakin saat ini beliau mendapatkan kenikmatan. Saya yakin, Kiai Fadlullah sekarang jauh lebih bahagia dibandingkan ketika masih hidup di dunia.)” pungkasnya.

Kesaksian KH Lukman Hakim Mahfudz menggambarkan sosok KH Fadlullah Malik sebagai pribadi yang ikhlas, sederhana, tekun dalam pengabdian, serta mampu menjaga hubungan baik dengan siapa pun. Keteladanan tersebut menjadi warisan berharga bagi para santri dan masyarakat yang mengenal beliau.

Bagikan Kebaikan

Teruskan khazanah kebaikan ini kepada dunia.

Komentar